Layanan ojek online sering disebut-sebut murah dan bikin ngirit. Tapi muncul pertanyaan. Seberapa ngiritkah naik ojek online tiap hari dibanding kredit motor sendiri buat transportasi?
Untuk menjawab pertanyaan itu agak susah. Soalnya tarif tiap layanan ojek online berlainan. Tapi perang tarif di antara mereka sudah pasti bikin untung kita sebagai konsumen karena dapat tarif murah.
Ongkos Go-jek
Kita ambil contoh kasus Go-jek saja sebagai pembanding. Meski sudah netapin tarif Rp 25 ribu untuk 6 kilometer pertama dan Rp 6 ribu per kilometer selanjutnya, Go-jek masih sering ngasih tarif promo Rp 15 ribu untuk 25 kilometer.
Misalnya Andi tiap hari berangkat-pulang pakai Go-jek ke kantor. Dengan tarif promo Go-jek Rp 15 ribu, dia keluar ongkos Rp 30 ribu per hari.
Artinya pengeluarannya untuk transportasi sebesar Rp 30 ribu x 20 hari kerja= Rp 600 ribu. Dalam setahun, Andi keluar ongkos total Rp 600 ribu x 12 bulan = Rp 7,2 juta.
Sekarang boleh senang dengan ongkos Go-jek yang murah. Tapi kalau masa promo sudah berakhir?
Itu kalau pakai tarif promo, ya. Bakal lebih gede kalau tarifnya sudah normal. Apalagi kalau pakai lebih dari 2 kali dalam sehari.
Ongkos Kredit Motor
Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.17/10/PBI/2015 mengenai Rasio LTV atau Rasio Financing To Value untuk Kredit atau Pembiayaan Properti dan Uang Muka Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor menetapkan uang muka (DP) kredit sepeda motor (roda dua) 20 persen dari harga total. Misalnya harga motor Rp 15 juta, berarti DP hanya Rp 3 juta.
Taruhlah Andi memilih kredit motor Yamaha Mio seharga Rp 13 juta dengan periode cicilan 12 bulan. Berarti dia harus nyiapin duit Rp 2,6 juta untuk DP.
[Baca: Cihuuy! Beban Uang Muka Kredit Mobil dan Motor Enggak Berat Lagi]
Dari leasing, perhitungan cicilan per bulan hingga lunas sekitar Rp 1 juta. Jadi, total pengeluarannya:
DP= Rp 2,6 juta
Cicilan: Rp 1,2 juta x 12 bulan= Rp 14,4 juta
Total: Rp 17 juta
Tapi, total pengeluaran Rp 17 juta itu belum termasuk ongkos bensin dan parkir.
Ongkos Go-jek vs Ongkos Kredit Motor
Secara nominal, pengeluaran total setahun untuk Go-jek lebih murah ketimbang kredit motor. Namun, ada kelebihan kredit motor yang gak dimiliki Go-jek.
- Lebih bebas bergerak pakai motor sendiri, gak perlu panggil Go-jek
- Motor bisa dijual kembali dengan depresiasi (penyusutan nilai) sekitar 30 persen dari harga baru atau senilai Rp 8-9 jutaan.
- Bisa dijaminkan jika membutuhkan kredit [Baca: Utang dengan BPKB sebagai Jaminan? Kenali Dulu Hak-Hak yang Dilindungi Hukum]
- Bisa jadi modal untuk cari penghasilan sampingan, misalnya jadi driver Go-jek!
Itulah perbandingan soal lebih hemat Go-jek atau kredit motor. Tentu saja perbandingan ini berlaku buat mereka yang bisa dan boleh naik sepeda motor.
Sepeda motor memang praktis. Mau kemana saja tinggal gas. Tapi ada biaya-biaya lain yang menyertai seperti biaya servis
Bisa naik sepeda motor saja gak cukup. Harus boleh naik motor alias punya surat izin mengemudi (SIM) C. Kalau gak bisa dan gak boleh, ojek adalah pilihan yang paling logis.
Begitu juga kalau gak mau berurusan dengan leasing dan ribet parkir plus bayar bensin sendiri. Mungkin jika tarif promo sudah gak ada, bisa diakali dengan naik angkutan lain kayak kereta atau angkot.
Tapi, jika yang dituju adalah efisiensi dan kepraktisan, kredit motor lebih disarankan. Toh, motor itu kelak bisa dijual bekas.
Apalagi jika suatu saat butuh pinjaman mendadak. BPKB motor yang udah lunas bisa jadi jaminan.
Namun keputusan kembali ke pribadi masing-masing. Harus diingat, jika kredit motor, otomatis tiap bulan wajib rutin bayar cicilan.
Jika kondisi keuangan gak bagus, bisa-bisa kredit malah macet. Ini berbeda dengan naik Go-jek, yang lebih fleksibel dalam urusan ongkos rutin bulanan.
[Baca: 5 Fakta bahwa Ngelamar Jadi Gojek Bisa Kasih Penghasilan Lebih]
Image credit:
- http://cdn.tmpo.co/data/2015/06/12/id_409083/409083_620.jpg
- https://torsimax.files.wordpress.com/2012/07/kredit.jpg
0 komentar